Setiap Do’a Pasti Terkabul
October 2, 2007
Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia berdo’a kepadaKu.” (QS. Al-Baqarah : 186).
Sebuah kebodohan yang tidak jarang dilakukan oleh manusia, adalah berprasangka buruk kepada Allah SWT, dimana ia menyangka lebih mengetahui apa yang baik, lebih baik dan terbaik bagi dirinya daripada Allah SWT. Tidak jarang, kebodohan ini membawanya kepada sikap hidup yang negative, mudah putus asa, dan menjauh dari Allah SWT dan dari ajaran Islam itu sendiri.
Merupakan kedzaliman pula, yang tidak sedikit dilakukan manusia, dimana ia menempatkan Allah SWT dibawah dirinya. Kedzaliman ini terlihat dengan menempatkan Allah sebagai lebih bodoh daripada dirinya. Ia mendiktekan keinginannya, menimbang baik buruknya kehidupan atas penilaiannya, bahkan ia pun menilai Allah SWT berdasarkan apa yang dipikirkan dan dirasakannya.
Lalu, ketika kebodohan dan kedzaliman berpadu, maka kita saksikan manusia yang dengan cepat berputus asa dari rahmat Allah. Kesulitan hidup yang dialaminya, membuatnya kian menjauh dari Allah SWT. Kesuksesan yang dicapainya, membuatnya kian melupakan Allah. Kemiskinan dan “kesengsaraan” yang dialami, seolah meyakinkan dia, bahwa Allah tidak menyayangi dan mengabaikannya. Kesuksesan dan keberhasilan hidup, seolah memantapkan dirinya, bahwa tanpa Allah SWT pun manusia bisa mencapai apa yang diinginkannya.
Inilah kebodohan, karena ia belum mengetahui hakikat kehidupan itu sendiri. Kesengsaraan dan kesuksesaan, bukanlah ukuran kasih sayang Allah kepada hambaNya. Adakalanya ia menjadi ujian dan cobaan, yang bila dihadapi dengan kesabaran akan meningkatkan kemuliaannya di sisi Allah dan kehormatannya dalam kehidupan dunia. Bisa jadi pula, itu merupakan peringatan agar manusia segera kembali kepada jalan yang diridhaiNya. Semua itu, justru semakin mendekatkan manusia kepada Allah.
Rasulullah SAW pernah menyatakan bahwa manusia yang paling banyak mengalami ujian dan cobaan adalah para nabi dan RasulNya. Sejarah hidup Rasulullah saw pun, tiada henti-hentinya diuji dan dicoba, dengan ujian dan cobaan yang kian berat dan besar. Namun, seiring memuncaknya ujian dan cobaan itu, meningkat pulalah kemuliaannya, dan kehormatan kaum muslimin yang mengikutinya.
Salah satu kunci agar semua ujian dan cobaan itu menjadi anak tangga bagi pencapaian kemuliaan hidup di dunia dan kebahagiaan di akhirat kelak, adalah do’a. Do’a, atau permohonan kepada Allah SWT, itulah sumber kekuatan manusia beriman. Mereka akan berdo’a dikala kesulitan dan kesengsaraan mendera, karena sesungguhnya semua itu terjadi semata atas izin Allah. Dari kesengsaraan dan kesulitan itu, akan terbukalah berbagai hikmah dan pelajaran hidup yang tidak mungkin diperoleh dari kesuksesan dan keberhasilan. Dan dikala kesuksesan dan keberhasilan diraih, maka orang beriman pun akan berdo’a pula, sehingga apa yang diraihnya menjadi sarana untuk semakin mendekatkan dirinya kepada Allah.
Setiap do’a yang dipanjatkan dengan ikhlas dan dengan cara yang baik, pastilah akan Allah kabulkan. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia berdo’a kepadaKu. Inilah janji Allah bagi hambaNya yang berdo’a. Janji Allah yang tidak mungkin salah dan diingkari. Setiap do’a yang dipanjatkan, pastilah dikabulkan.
Hanya saja, kebodohan dan kedzaliman manusia sendirilah yang seringkali tidak memahami bagaimana Allah mengabulkan do’anya. Allah SWT pastilah mengabulkan do’a hambaNya, dengan sebaik-baik bentuk. Adakalanya do’a itu dikabulkan sebagaimana yang diinginkan oleh hamba yang berdo’a. Adakalanya do’a itu dikabulkan tidak sebagaimana yang diinginkan oleh hamba yang berdo’a. Mungkin tidak pada waktu yang dekat, tidak di tempat yang sama, atau tidak dalam bentuk sebagaimana yang diharapkan oleh manusia itu sendiri. Itu semua adalah kebijaksanaan Allah, ke-Mahatahuan Allah atas apa yang terbaik bagi hambaNya.
Jika seorang hamba memohon dilepaskan dari kemiskinan, tidak selamanya kemiskinan berarti buruk bagi dirinya, dan tidak pasti kekayaan yang datang melimpah akan menjadikan hidupnya lebih baik. Lihatlah pada kenyataan, tidak sedikit orang yang pada saat miskin dihormati karena sikapnya yang rendah hati, ulet, dan bersahaja, namun tatkala kesuksesan diraih, ia berubah menjadi manusia yang hina, tinggi hati dan meremehkan orang lain.
Jadi, orang-orang beriman memanjatkan do’a dengan keyakinan bahwa Allah SWT pasti akan mengabulkannya. Allah SWT pasti akan mengabulkan dengan ke-MahabijaksanaanNya dan ke-MahatahuanNya atas apa yang terbaik bagi dirinya. Karena itulah, orang beriman akan menyadari, bahwa semua yang terjadi dan dihadapinya adalah yang terbaik Allah berikan bagi dirinya. Adakah itu penderitaan atau kesenangan, kegagalan atau kesuksesan, semua itu terjadi atas seizin Allah. Itu semua, bila dihadapi dengan iman, kesabaran dan tiada henti untuk bersyukur dan berikhtiar, pastilah akan menjadi anak tangga menuju kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat kelak.
-
[e-source: world wide web]
Entry Filed under: Hikmah Islam. .
1 Comment Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed
1.
sudi | April 30, 2009 at 3:33 pm
Saya setuju sekali
jika ditambahkan keyakinan dan keimanan yang kuat pastilah lebih sempurna doa yang sedang dipanjatkan
thx