Posts filed under 'Hikmah Islam'
Setiap Do’a Pasti Terkabul
Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia berdo’a kepadaKu.” (QS. Al-Baqarah : 186).
Sebuah kebodohan yang tidak jarang dilakukan oleh manusia, adalah berprasangka buruk kepada Allah SWT, dimana ia menyangka lebih mengetahui apa yang baik, lebih baik dan terbaik bagi dirinya daripada Allah SWT. Tidak jarang, kebodohan ini membawanya kepada sikap hidup yang negative, mudah putus asa, dan menjauh dari Allah SWT dan dari ajaran Islam itu sendiri.
Merupakan kedzaliman pula, yang tidak sedikit dilakukan manusia, dimana ia menempatkan Allah SWT dibawah dirinya. Kedzaliman ini terlihat dengan menempatkan Allah sebagai lebih bodoh daripada dirinya. Ia mendiktekan keinginannya, menimbang baik buruknya kehidupan atas penilaiannya, bahkan ia pun menilai Allah SWT berdasarkan apa yang dipikirkan dan dirasakannya.
Lalu, ketika kebodohan dan kedzaliman berpadu, maka kita saksikan manusia yang dengan cepat berputus asa dari rahmat Allah. Kesulitan hidup yang dialaminya, membuatnya kian menjauh dari Allah SWT. Kesuksesan yang dicapainya, membuatnya kian melupakan Allah. Kemiskinan dan “kesengsaraan” yang dialami, seolah meyakinkan dia, bahwa Allah tidak menyayangi dan mengabaikannya. Kesuksesan dan keberhasilan hidup, seolah memantapkan dirinya, bahwa tanpa Allah SWT pun manusia bisa mencapai apa yang diinginkannya.
Inilah kebodohan, karena ia belum mengetahui hakikat kehidupan itu sendiri. Kesengsaraan dan kesuksesaan, bukanlah ukuran kasih sayang Allah kepada hambaNya. Adakalanya ia menjadi ujian dan cobaan, yang bila dihadapi dengan kesabaran akan meningkatkan kemuliaannya di sisi Allah dan kehormatannya dalam kehidupan dunia. Bisa jadi pula, itu merupakan peringatan agar manusia segera kembali kepada jalan yang diridhaiNya. Semua itu, justru semakin mendekatkan manusia kepada Allah.
Rasulullah SAW pernah menyatakan bahwa manusia yang paling banyak mengalami ujian dan cobaan adalah para nabi dan RasulNya. Sejarah hidup Rasulullah saw pun, tiada henti-hentinya diuji dan dicoba, dengan ujian dan cobaan yang kian berat dan besar. Namun, seiring memuncaknya ujian dan cobaan itu, meningkat pulalah kemuliaannya, dan kehormatan kaum muslimin yang mengikutinya.
Salah satu kunci agar semua ujian dan cobaan itu menjadi anak tangga bagi pencapaian kemuliaan hidup di dunia dan kebahagiaan di akhirat kelak, adalah do’a. Do’a, atau permohonan kepada Allah SWT, itulah sumber kekuatan manusia beriman. Mereka akan berdo’a dikala kesulitan dan kesengsaraan mendera, karena sesungguhnya semua itu terjadi semata atas izin Allah. Dari kesengsaraan dan kesulitan itu, akan terbukalah berbagai hikmah dan pelajaran hidup yang tidak mungkin diperoleh dari kesuksesan dan keberhasilan. Dan dikala kesuksesan dan keberhasilan diraih, maka orang beriman pun akan berdo’a pula, sehingga apa yang diraihnya menjadi sarana untuk semakin mendekatkan dirinya kepada Allah.
Setiap do’a yang dipanjatkan dengan ikhlas dan dengan cara yang baik, pastilah akan Allah kabulkan. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia berdo’a kepadaKu. Inilah janji Allah bagi hambaNya yang berdo’a. Janji Allah yang tidak mungkin salah dan diingkari. Setiap do’a yang dipanjatkan, pastilah dikabulkan.
Hanya saja, kebodohan dan kedzaliman manusia sendirilah yang seringkali tidak memahami bagaimana Allah mengabulkan do’anya. Allah SWT pastilah mengabulkan do’a hambaNya, dengan sebaik-baik bentuk. Adakalanya do’a itu dikabulkan sebagaimana yang diinginkan oleh hamba yang berdo’a. Adakalanya do’a itu dikabulkan tidak sebagaimana yang diinginkan oleh hamba yang berdo’a. Mungkin tidak pada waktu yang dekat, tidak di tempat yang sama, atau tidak dalam bentuk sebagaimana yang diharapkan oleh manusia itu sendiri. Itu semua adalah kebijaksanaan Allah, ke-Mahatahuan Allah atas apa yang terbaik bagi hambaNya.
Jika seorang hamba memohon dilepaskan dari kemiskinan, tidak selamanya kemiskinan berarti buruk bagi dirinya, dan tidak pasti kekayaan yang datang melimpah akan menjadikan hidupnya lebih baik. Lihatlah pada kenyataan, tidak sedikit orang yang pada saat miskin dihormati karena sikapnya yang rendah hati, ulet, dan bersahaja, namun tatkala kesuksesan diraih, ia berubah menjadi manusia yang hina, tinggi hati dan meremehkan orang lain.
Jadi, orang-orang beriman memanjatkan do’a dengan keyakinan bahwa Allah SWT pasti akan mengabulkannya. Allah SWT pasti akan mengabulkan dengan ke-MahabijaksanaanNya dan ke-MahatahuanNya atas apa yang terbaik bagi dirinya. Karena itulah, orang beriman akan menyadari, bahwa semua yang terjadi dan dihadapinya adalah yang terbaik Allah berikan bagi dirinya. Adakah itu penderitaan atau kesenangan, kegagalan atau kesuksesan, semua itu terjadi atas seizin Allah. Itu semua, bila dihadapi dengan iman, kesabaran dan tiada henti untuk bersyukur dan berikhtiar, pastilah akan menjadi anak tangga menuju kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat kelak.
-
[e-source: world wide web]
1 comment October 2, 2007
Bershahabat dengan para Shalihin
Kepada setiap Muslimin yang aktif dalam kegiatan da’wah, saya memohon satu hal yang sangat penting untuk diperhatikan. Hendaknya Anda sekalian selalu mengadakan hubungan dengan mereka yang senantiasa dekat dengan Allah swt (Waliyullah) dan banyaknya berkhidmat kepada mereka. Karena ini dapat menjadi penyebab kuatnya iman kita serta mendatangkan kebaikan dan keberkatan dalam hidup kita.
Rasulullah Saw bersabda:
“Maukah saya tunjukkan kepadamu suatu perkara yang dengannya kamu akan memperoleh kebaikan di dunia dan akherat? Hendaklah engkau menyertai mereka yang selalu mengingati dan membesarkan Allah Swt.”
Untuk dapat menyertai mereka yang dekat dengan Allah Swt kita harus tahu bagaimana sebenarnya tanda-tanda mereka yang cinta kepada Allah Swt dan Rasul-Nya. Tanda-tandanya adalah mereka akan selalu mengamalkan sunnah-sunnah Rasulullah karena Allah telah menjadikan Rasulullah sebagai suri teladan bagi ummatnya. Allah berfirman:
“Katakanlah (wahai Muhammad): “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Barang siapa mengikuti Rasulullah dengan penuh taat dan setia berarti dia adalah Waliyullah. Dan barang siapa yang jauh dari sunnah-sunnah Rasulullah saw maka dia telah jauh dari Allah SWT. dan tidak akan mendapatkan Rahmat-Nya. Para ahli tafsir menulis, barang siapa yang mengaku mencintai Allah swt tetapi tidak mengikuti sunnah-sunnah Rasulullah maka dia adalah pendusta.
Sudah menjadi syarat dalam bercinta bahwa segala sesuatu yang berkaitan dengan yang dicintai mestilah kita cinta juga. Jika kita cinta pada seseorang maka kita pun akan cinta pada rumahnya, jendelanya, piringannya, tamannya sampai binatang peliharaannya. Seorang penyair telah mengutip kata-kata masyhur dari Amrul Qais, kekasih Laila:
“Tatkala kulewati kotanya Laila ku mencintai setiap pintu temboknya Sebenarnya bukan kota itu yang aku cintai tetapi seseorang yang tinggal di kota itulah yang aku cintai.”
Seorang penyair lain berkata:
“Kamu pura-pura mencintai Allah, padahal perbuatan-perbuatanmu bertentangan dengan perintah Allah seandainya cintamu itu sejati, tentulah kamu selalu menanti-Nya Sesungguhnya orang yang mencintai selalu mentaati yang dicintainya.”
Rasulullah bersabda: “Seluruh ummatku akan masuk surga kecuali mereka yang enggan.” Para sahabat bertanya,”Siapa yang enggan itu ya Rasulullah saw?” Jawab beliau, “Siapa yang mentaatiku akan masuk surga dan siapa yang mengingkariku maka sesungguhnya dialah yang enggan.”
Dalam hadits lain Rasulullah saw bersabda, “Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian sehingga segala keinginannya mengikuti apa yang aku bawa.” (Misykaat)
Sungguh suatu hal yang mengherankan jika seorang mengaku dirinya Muslim tetapi dia tidak taat kepada Allah Swt dan meninggalkan sunnah-sunnah Rasul-Nya. Dan jika hal ini kita sampaikan kepada mereka bahwa mereka meninggalkan sunnah Rasulullah maka mereka akan marah.
Said ra berkata dalam sebuah syair,
“Barang siapa menentang Nabi, maka perjalanan apapun yang ditempuhnya tidak akan sampai ke tempat tujuan.” Wahai insan yang lalai, Aku khawatir kalian tidak akan sampai ke ka’bah, Karena jalan yang kau lalui menuju ke Turki.
-
[e-source: world wide web]
Add comment September 30, 2007
Buruknya Dunia & Indahnya Akhirat
“Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan sendagurau belaka. Dan sesungguhnya kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa, maka tidakkah kamu memahaminya.” (Q.S.Al-A’raf (6) : 32).
Dunia dan akhirat adalah dua wujud yang berbeda.
Keduanya bak sepasangpengantin yang berdampingan. Artinya, jika kehidupan duniawi seseorangbaik, maka baik pula kehidupan ukhrawinya. Begitupun sebaliknya.Secara substantif, hanya ada suatu sekat tipis pemisah antara dunia dan akhirat, yaitu barzah. Kehidupan dunia yang begitu rapuh sangat mudah pecah lalu menembus batas keduanya, sehingga seseorang dapat dengan mudah berpindah ke alam ukhrawinya. Dan seseorang tidak akan sekali-kali dapat kembali menuju alam dunianya lagi. Akankah manusia mengetahui hakikat kedua wujud yang berbeda ini?
Seorang muslim tentunya mengetahui bahwa kehidupan yang baik di dunia hanya dapat dicapai dengan ketaqwaan pada Allah. Berjalan di muka bumi berdasarkan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan-Nya.Kedengarannya mudah tetapi nyatanya begitu sulit untuk dilakukan.Realitas dunia dengan beragam perhiasannya membuat manusia mudah lupa dengan janjinya pada Allah SWT. Keindahan dunia terasa nyata dirasakan oleh manusia, membuat banyak manusia berlomba meraih satu demi satu gemerlapnya dengan meninggalkan bahkan melupakan sama sekali keabadian akhirat. Sebegitu dahsyatnyakah magnet keindahan dunia?
Padahal sangat jelas dikatakan bahwa kehidupan akhirat itu lebih baik dari dunia (Q.S. 3:14, 4:77, 6:32). Kehidupan nyata di dunia yang jelas-jelas dijalani oleh semua manusia sebenarnya hanyalah kesenangan semu yang melenakan belaka, sedangkan akhirat dengan segala keabadiannya adalah suatu kehidupan yang tiada akhir, sesuai subtansi di atas di mana manusia tak akan dapat kembali lagi ke dunia jika telah meninggalkan dunia, dalam satu riwayat disebutkan: “Jika engkau menyanjung dunia, maka dunia akan terlihat tinggi di depanmu, namun jika engkau menganggap rendah dunia, maka dunia akan bertekuk lutut didepanmu.
“Sebegitu bodohnyakah manusia sehingga dengan mudah tertipu dengan nikmatnya dunia? Seberapa jauh engkau berlari, mengejar, mencoba meraih setiap perhiasan dunia, maka semakin dalam engkau terperosok direndahkan oleh dunia. Secara tak sadar engkau menjadi “budak dunia, “bersedia melakukan apa saja asalkan keinginan duniamu terpenuhi. Sebegitu bodohnyakah engkau wahai manusia, menyerah bertekuk lutut menjadi budaknya.
Oleh karena itu diberikan pada kehidupan dunia tempat yang sesuai dengannya, tidak berlebih-lebihan kadarnya. Maka dunia akan sendirinya menjadi budakmu, mengikuti segala kehendakmu. Karena sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah sebagian kecil dari kehidupan manusia. Dunia merupakan jembatan yang akan mengantarkan kepada kehidupan akhirat yang abadi dan yang lebih indah. Sebenarnya tidak seutuhnya kehidupan akhirat begitu jauh dari jangkauan manusia. Bagi seorang muslim yang bertaqwa keindahan-keindahan akhirat tersebut akan mudah terasa dan tergambar dalam benaknya, sehingga seluruh ruh dan jiwanya akan dikorbankannya untuk meraih indahnya kampung akhirat. Akhirnya kemanakah kita akan mengkondisikan diri kita, apakah kita orang yang menjadi budak dunia atau menjadi tuan bagi dunia? hanya Allah, kemudian dirikitalah yang mengetahuinya.
-
[e-source: world wide web]
Add comment September 17, 2007
Hikmah Hidup
Di saat kita mulai tumbuh dan mengenal kehidupan, dimana kita masih sangat membutuhkan kasih sayang, perlindungan dan bimbingan kedua orang tua, mungkin hal ini pernah terjadi didalam kehidupan kita. Suara pertengkaran antara ayah dan ibu menghiasi perjalanan hidup, derai dan isak air mata ibu menambah suramnya suasana rumah. Juga tak jarang kita melihat perlakuan kasar terjadi ‘disana’, suatu yang seharusnya tidak pantas untuk menjadi tontonan bagi seorang anak yang baru beranjak dewasa.
Mungkin saat itu sikecil belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi didalam rumahnya. Apa yang ada di depan matanya saat itu mungkin hanya di anggap sebagai suatu hal yang wajar didalam hidup. Tapi semua akan berkata lain ketika dia bermain dengan teman-teman sebayanya. Sering dia pulang dengan menangis karena selalu menjadi bahan cibiran oleh teman-temannya, suatu hal yang mungkin tidak akan pernah dia lupakan untuk seumur hidupnya.
Disaat kita mulai beranjak dewasa, dimana kita sudah mulai mengerti tentang seluk beluk kehidupan dunia, kita masih tetap membutuhkan kasih sayang, perlindungan dan bimbingan dari kedua orang tua, mungkin hal ini pernah terjadi dalam kehidupan kita. Sikap kasar ayah memperlakukan ibu, dimana ibu hanya terlihat menangis sambil membela diri. Dimana kata-kata kasar dan perhiasan rumah mulai berterbangan didepan mata kita. Dan berakhir pada dua opsi yang sangat mengejutkan, yang di tujukan pada kita. ‘Nak, jika ayah dan ibu harus pisah kamu mau ikut siapa?’.
Mungkin hal ini pernah terjadi di keluarga kita, memori yang sudah mulai tumbuh sejak kita kecil hingga kita dewasa, kini harus di hadapkan pada sebuah kenyataan. Mungkin banyak diantara kita yang bisa melewati semua itu dengan baik, tapi tak jarang diantara kita yang melewatinya dengan sangat ‘buruk’. Sering sekali dunia menjadi pelampiasan bagi kita. Cukup banyak berita yang menceritakan tentang bagaimana seorang anak menjadi seorang kriminal, pembunuh, ketergantungan terhadap narkoba hanya karena masalah yang terjadi di keluarganya dan semuanya itu dijadikannya sebagai pelarian bagi nya.
Dan ketika dia tersadar dia hanya bisa berkata ‘Ya Tuhan mengapa semua ini terjadi?, ini tidak adil’. Dan dia hanya bisa menangis dan terus menangis merenungi perjalanan hidupnya itu.
Saudaraku, mungkin akan sulit bagi kita, jika kita sendiri yang menghadapi hal itu. Tetapi mengapa kita tidak mencoba untuk mengambil hikmah dari semua itu. Mari kita renungkan Firman-Firman Allah swt berikut ini:
- “Dan sungguh Kami akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kepada Kamilah kalian akan kembali” (al-Anbiya’:35).
- “Dan sungguh Kami akan menguji kalian dengan berbagai cobaan berupa rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Berikanlah kabar gembira kepada orang yang bersabar. Yaitu orang-orang yang ketika ditimpa musibah mereka berkata, ‘Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya pula kami akan kembali’. Mereka itulah orang-orang yang memperoleh kehormatan dan rahmat dari Rabb mereka dan merekalah orang-orang yang memperoleh petunjuk”. (al-Baqarah:155-157)
- “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya”(al-Mulk:2)
- “sesungguhnya Kami menciptakan manusia berada dalam susah payah” (al-Balad:4)
- “Apakah manusia itu mengira mereka bahwa mereka dibiarkan (saja) engatakan, ‘kami telah beriman’. Sedang mereka tidak diuji lagi” (al-Ankabut: 2)
Ada satu yang harus kita syukuri dari semua itu, ternyata Allah masih sayang kepada kita. Allah mendidik kita dengan sesuatu yang di bumi ini tidak ada wadah pendidikan resminya, dan tidak pula pada semua orang Allah beri kan pelajaran ini . Pada kasus diatas mungkin Allah ingin ajar kan kepada kita tentang:
- Belajar untuk bersabar dan bersyukur dalam menjalani cobaan hidup
- Menyanyangi istri (suami) dan jangan memperlakukannya secara kasar kelak ketika engkau berumah tangga, karena kita pernah melihat bagaimana menderitanya seorang ibu menangis dan frustasinya sang ayah ketika dihimpit masalah.
- Bangunlah Mahligai rumah tangga dengan sebaik mungkin ketika engkau mulai membangunnya, karena kita pernah melihat bagaimana hancurnya perasaan kita disaat melihat keluarga kita diambang kehancuran.
Jangan pernah tunjukkan pertengkaran ‘itu’ didepan anak-anak kita kelak, karena hal itu akan terus tertanam dalam ingatannya dan akan memberikan dampak buruk pada perkembangannya. - Berprasangka baik atas ketetapan Allah pada kita. “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal baik bagi kamu menurut Allah dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal amat buruk bagimu menurut Allah. Allah Maha Mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui” (al-Baqarah : 216)
Saudaraku, mungkin masih banyak lagi cobaan hidup yang pernah menghampiri kita, dan akan menghampiri kita, selama kita hidup diatas bumi ini. Bahkan mungkin lebih sulit dari contoh kasus yang diatas, yang membuat kita terjatuh, tersungkur dan tertatih dalam menjalani hidup ini.
Saudaraku, berduka itu wajar, bersedih itu manusiawi tetapi itu tidak akan menjadi wajar bila itu telah menempati seluruh isi hati dan ruang fikir kita. Yang tanpa kita sadari semua itu akan mempengaruhi kehidupan dan keimanan kita. Segeralah bangkit dan jangan terus larut dalam persoalan hidup yang senantiasa akan menjadi teman bagi hidup ini. Marilah kita belajar mencari hikmah hidup di balik semua persoalan hidup yang menghampiri kita. Hingga nantinya kita akan keluar sebagai pemenangnya dalam menghadapi cobaan yang Allah berikan ini.
Saudaraku. Mungkin hadist berikut ini dapat memberikan ketenangan di bathin kita disaat kita sedang di uji Allah.
- Sabda rasulullah saw : ‘Tidak ada seorang muslim pun yang ditimpa gangguan semacam tusukan duri atau yang lebih berat daripadanya melainkan ujian itu menghapuskan perbuatan buruknya serta digugurkan dosa-dosanya sebagaimana pohon kayu menggugurkan daun-daunya’. (HR. Muttafaq Alaih)
- ”Barang siapa dikehendaki Allah kebaikan pada dirinya, maka ia akan diberi cobaan”. (HR Bukhari dan Muslim)
- ”Orang yang banyak mendapat ujian adalah para nabi, kemudian orang-orang yang lebih dekat derajatnya kepada mereka secara bertingkat dan berurutan. Seorang diuji berdasarkan ketaatan kepada agamanya. Jika ia sangat kukuh kuat dalam agamanya, sangat kuat pula ujian kepadanya. Dan jika ia lemah dalam agamanya, maka Allah mengujinya sesuai dengan tingkat ketaatan kepada agamanya. Demikianlah bala dan ujian itu senantiasa ditimpakan kepada seorang hamba sampai ia dibiarkan berjalan dimuka bumi tanpa dosa apapun”. (HR. Tarmidzi).
Mudah-mudahan tulisan kecil ini dapat mengingatkan kepada saya dan saudara-saudaraku yang telah membacanya dan dapat kita ambil Ibrohnya bagi perjalanan hidup kita. “HIDUP MULIA ATAU MATI SYAHID!”.
-
[e-source: world wide web]
1 comment September 13, 2007
Bersiap Menghadapi Kehilangan
Alkisah, seorang lelaki keluar dari pekarangan rumahnya, berjalan tak tentu arah dengan rasa putus asa. Sudah cukup lama ia menganggur. Kondisi finansial keluarganya morat-marit. Sementara para tetangganya sibuk memenuhi rumah dengan barang-barang mewah, ia masih bergelut memikirkan cara memenuhi kebutuhan pokok keluarganya, sandang dan pangan.
Anak-anaknya sudah lama tak dibelikan pakaian, istrinya sering marah-marah karena tak dapat membeli barang-barang rumah tangga yang layak. Laki-laki itu sudah tak tahan dengan kondisi ini, dan ia tidak yakin bahwa perjalanannya kali ini pun akan membawa keberuntungan, yakni mendapatkan pekerjaan.
Ketika laki-laki itu tengah menyusuri jalanan sepi, tiba-tiba kakinya terantuk sesuatu. Karena merasa penasaran, ia membungkuk dan mengambilnya. “Uh, hanya sebuah koin kuno yang sudah penyok-penyok,” gerutunya kecewa. Meskipun begitu, ia membawa koin itu ke sebuah bank.
“Sebaiknya koin ini Bapak bawa saja ke kolektor uang kuno,” kata teller itu memberi saran. Lelaki itupun mengikuti anjuran si teller, membawa koinnya ke kolektor. Beruntung sekali, si kolektor menghargai koin itu senilai 30 dollar. Begitu senangnya, lelaki tersebut mulai memikirkan apa yang akan dia lakukan dengan rejeki nomplok ini.
Ketika melewati sebuah toko perkakas, dilihatnya beberapa lembar kayu sedang diobral. Dia bisa membuatkan beberapa rak untuk istrinya karena istrinya pernah berkata mereka tak punya tempat untuk menyimpan jambangan dan toples. Setelah ia membeli lembaran kayu seharga 30 dollar, dia memanggul kayu tersebut dan beranjak pulang.
Di tengah perjalanan, dia melewati bengkel seorang pembuat mebel. Mata pemilik bengkel sudah terlatih melihat kayu yang dipanggul lelaki itu. Kayunya indah, warnanya bagus, dan mutunya terkenal. Kebetulan pada waktu itu ada pesanan mebel. Dia menawarkan uang sejumlah 100 dollar kepada lelaki itu.
Terlihat ragu-ragu di mata laki-laki itu, namun pengrajin itu meyakinkannya dan dapat menawarkannya mebel yang sudah jadi agar dipilih lelaki itu. Kebetulan di sana ada lemari yang pasti disukai istrinya. Dia menukar kayu tersebut dan meminjam sebuah gerobak untuk membawa lemari itu. Dia pun segera membawanya pulang.
Di tengah perjalanan dia melewati perumahan baru. Seorang wanita yang sedang mendekorasi rumah barunya melongok keluar jendela dan melihat lelaki itu mendorong gerobak berisi lemari yang indah. Si wanita terpikat dan menawar dengan harga 200 dollar. Ketika lelaki itu nampak ragu-ragu, si wanita menaikkan tawarannya menjadi 250 dollar. Lelaki itupun setuju. Kemudian mengembalikan gerobak ke pengrajin dan beranjak pulang.
Di pintu desa, dia berhenti sejenak dan ingin memastikan uang yang ia terima. Ia merogoh sakunya dan menghitung lembaran bernilai 250 dollar. Pada saat itu seorang perampok keluar dari semak-semak, mengacungkan belati, merampas uang itu, lalu kabur. Istri si lelaki kebetulan melihat dan berlari mendekati suaminya seraya berkata, “Apa yang terjadi? Engkau baik saja kan ? Apa yang diambil oleh perampok tadi?” Lelaki itu mengangkat bahunya dan berkata, “Oh, bukan apa-apa. Hanya sebuah koin penyok yang kutemukan tadi pagi.”
Memang, ada beragam cara menyikapi kehilangan. Semoga kita termasuk orang yang bijak menghadapi kehilangan dan sadar bahwa sukses hanyalah TITIPAN Allah. Benar kata orang bijak, manusia tak memiliki apa-apa kecuali pengalaman hidup. Bila kita sadar kita tak pernah memiliki apapun, kenapa harus tenggelam dalam kepedihan yang berlebihan.
-
[e-source: world wide web]
Add comment September 12, 2007